Keselamatan Kerja dalam Kegiatan Reklamasi agar Pemulihan Lahan Tetap Aman dan Maksimal

Tambang Tujuh Bukit Serap 72% Tenaga Kerja Lokal Banyuwangi

Coba lihat suasana di area bekas tambang. Alat berat masih meratakan lahan, sementara pekerja bergerak menata lereng, saluran air, hingga area yang nantinya menjadi tempat tumbuhnya vegetasi. Dari kejauhan, semuanya mungkin terlihat seperti proses biasa untuk mengembalikan lahan agar kembali hijau.

Namun, di balik setiap aktivitas tersebut, terdapat berbagai risiko yang perlu mendapat perhatian serius. Permukaan tanah yang belum stabil, pergerakan alat berat, debu, hingga perubahan cuaca dapat mengancam keselamatan pekerja kapan saja. Karena itu, keselamatan kerja dalam kegiatan reklamasi bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi, tetapi menjadi fondasi agar proses pemulihan lahan berjalan aman, tertib, dan berkelanjutan.

Mengapa Keselamatan Kerja Sangat Penting

Kegiatan reklamasi mencakup pekerjaan pembentukan lahan, pengelolaan material, pembangunan drainase, penataan lereng, pengangkutan, hingga revegetasi. Setiap aktivitas memiliki potensi bahaya yang berbeda, mulai dari pergerakan alat berat, longsoran, debu, paparan panas, sampai permukaan tanah yang tidak stabil.

Pemerintah juga menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai salah satu prinsip dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. PP Nomor 78 Tahun 2010 menegaskan perlindungan keselamatan pekerja serta perlindungan dari penyakit akibat kerja sebagai bagian penting dalam kegiatan tersebut. Selain itu, Kepmen ESDM Nomor 344.K/MB.01/MEM.B/2025 kini menjadi pedoman teknis pelaksanaan reklamasi dan pascatambang mineral dan batubara.

Mengenali Risiko Sebelum Memulai Pekerjaan

Sebelum pekerja turun ke lapangan, tim perlu memetakan bahaya berdasarkan kondisi aktual area. Tim dapat memeriksa kemiringan lereng, kondisi tanah, jalur alat berat, genangan, material lepas, jaringan utilitas, serta potensi longsor.

Selanjutnya, pengawas dapat melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko untuk menentukan pengendalian yang sesuai. Dengan cara ini, pekerja tidak sekadar mengandalkan pengalaman, tetapi mengikuti langkah kerja yang sudah mempertimbangkan kemungkinan kecelakaan.

Gunakan APD dan Ikuti Prosedur Kerja

Pekerja perlu menggunakan alat pelindung diri sesuai jenis pekerjaan. Helm keselamatan, sepatu pelindung, rompi, sarung tangan, pelindung mata, dan perlindungan pernapasan dapat membantu mengurangi paparan terhadap bahaya tertentu.

Namun, APD saja tidak cukup. Pekerja juga perlu mengikuti prosedur, menjaga komunikasi dengan operator alat berat, menggunakan jalur aman, dan menghentikan pekerjaan ketika kondisi lapangan berubah. Pengawas kemudian perlu memastikan setiap orang memahami instruksi sebelum pekerjaan berlangsung.

Waspadai Alat Berat dan Kondisi Lereng

Alat berat menjadi salah satu sumber risiko utama dalam reklamasi. Operator harus memeriksa kondisi unit, menjaga jarak aman, serta memperhatikan area blind spot. Pekerja lain juga perlu menghindari radius kerja alat kecuali operator sudah memberikan izin.

Sementara itu, kondisi lereng membutuhkan perhatian khusus. Hujan deras dapat meningkatkan risiko erosi atau longsor, terutama pada permukaan yang belum stabil. Karena itu, tim perlu memantau cuaca, drainase, retakan tanah, dan perubahan bentuk lereng secara berkala.

Siapkan Tanggap Darurat Sejak Awal

Selain itu, tim perlu menyiapkan rencana tanggap darurat sebelum pekerjaan dimulai. Tentukan titik kumpul, jalur evakuasi, alat komunikasi, kotak P3K, serta kontak petugas yang bertanggung jawab. Langkah sederhana tersebut membantu pekerja bertindak cepat ketika kecelakaan, perubahan cuaca, atau kondisi lapangan memunculkan keadaan darurat. Tim juga perlu melatih respons darurat secara berkala.

Bangun Budaya Kerja yang Peduli Keselamatan

Keselamatan kerja akan berjalan lebih kuat ketika seluruh anggota tim saling mengingatkan. Pekerja dapat melaporkan kondisi berbahaya, mengikuti briefing, dan menyampaikan perubahan lapangan tanpa takut mendapat tekanan.

Perusahaan juga perlu menyediakan pelatihan, inspeksi rutin, komunikasi darurat, serta evaluasi setelah pekerjaan selesai. ESDM bahkan terus mendorong peningkatan kompetensi pelaksana reklamasi melalui pelatihan dan sertifikasi, termasuk program yang berlangsung pada Agustus 2026.

Kesimpulan

Keselamatan kerja dalam kegiatan reklamasi membantu tim melindungi pekerja sekaligus menjaga kelancaran pemulihan lahan. Tim perlu mengenali risiko, memakai APD, mengendalikan alat berat, memantau lereng, dan membangun komunikasi yang konsisten agar setiap pekerjaan berjalan lebih aman.

Selain keselamatan, reklamasi juga membutuhkan pengendalian erosi agar tanah tetap stabil saat proses revegetasi berlangsung. Salah satu pilihan pendukung yang dapat digunakan yaitu cocomesh dari Rumah Sabut. Jaring sabut kelapa ini dapat membantu menahan tanah pada area tertentu sekaligus mendukung pengendalian erosi. Dengan kombinasi prosedur K3 yang disiplin dan teknik konservasi yang tepat, reklamasi dapat bergerak menuju lahan yang lebih aman, stabil, dan hijau.

Previous post Alasan Perlu Membuat Anggaran Bulanan untuk Mengelola Keuangan
Next post Penataan Tata Letak Perbandingan Paket agar Lebih Jelas dan Menarik